Evolusi Berpuasa yang Konyol dan Memprihatinkan

Saya baru menyadari bahwa pengetahuan saya tentang berpuasa Ramadhan sejauh ini begitu dangkal. Semenjak mengenal puasa dan mulai mempraktikkannya, puasa yang saya kerjakan hanyalah berkutat pada upaya untuk tidak makan dan tidak minum setelah adzan Subuh hingga adzan Magrib berkumandang. Lapar? Tentu saya lapar. Haus? Apalagi. 

Selama satu bulan penuh di setiap tahun saya seolah merasa ‘disiksa’. Perut keroncongan minta diisi, tenggorokan kering menuntut untuk dibasahi, sementara saya terikat oleh tali puasa yang tidak membebaskan saya untuk sekadar melampiaskan dan mengobati rasa haus dan lapar sebelum waktu yang diizinkan. Bukannya menggembirakan sebagaimana seruan orang-orang pada umumnya yang menyiratkan kebahagiaan pada saat datangnya bulan suci Ramadhan, masa kanak-kanak saya justru dibayangi oleh rasa keterancaman saat bulan Ramadhan tiba. Satu hal yang saya syukuri, jam belajar saya di sekolah pada satu bulan itu menjadi lebih pendek dari bulan-bulan yang lainnya.

Meski merasa terancam dan terkekang, saya mencoba berdamai dengan keadaan. Saya tetap menjalankan puasa full, setidaknya full di sini dipandang dari sisi luar/permukaan puasa atau makna puasa dalam arti yang sangat dangkal. Saya rutin tarawih setiap malam di masjid dengan menempuh jarak 1 km jalan kaki pulang-pergi, dan tiap hari selesai sholat Subuh saya mengaji di rumah guru ngaji saya.

Semua itu berlanjut hingga saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tugas saya bertambah ketika bulan Ramadhan, yaitu belajar dan masuk sekolah seperti biasa tanpa ada pengurangan jam belajar di sekolah, di samping tetap berpuasa tentunya. Karena saya masih menjalankan puasa dengan gaya lama, maka hal yang saya lakukan juga tidak terlalu berbeda alias masih sama.

Di siang yang terik, sepulang sekolah naik bemo, sambil terangguk-angguk terbuai kantuk, otak saya selalu membayangkan seporsi mi ayam dan semangkuk bakso yang lengkap dengan bawang goreng, saus, dan sambalnya, atau aneka menu makanan lain yang menggugah selera. Ini rutin saya lakukan sebagai kompensasi tidak diperbolehkannya saya menyantap makanan justru pada jam-jam di mana suara keroncongan dari dalam perut saya menggelegar maksimal.

Saya juga ingat di satu bulan Ramadhan saya selalu rutin membuka buku Fisika bab ‘Kalor’. Bukan untuk membaca isi di dalamnya. Sebuah gambar segelas es teh sebagai contoh perubahan kalor cukup memuaskan hasrat dahaga saya meskipun secara artifisial. Bagi saya, hal-hal tersebut sudah cukup membahagiakan dan sukses menjadi pelipur kesedihan dan rasa keterancaman saya saat berpuasa di bulan Ramadhan. Memprihatinkan sekali bukan cara saya berpuasa?

Menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA), saya mulai merasa mengalami pergeseran pemahaman atas makna puasa yang saya jalankan. Meski sejak kecil sudah diajarkan tujuan berpuasa dan dalil-dalil yang menyertainya, saya masih belum mengerti benar. Barangkali karena hidayah dari Tuhan sudah waktunya diberikan kepada saya, sedikit demi sedikit saya memperbaiki pola puasa saya.

Saya tak lagi menumpuk ingatan dan bayangan akan aneka hidangan lezat di kepala saya, juga tak lagi membuka buku-buku sekolah untuk mencari pembenaran dan pembelaan atas rasa dahaga saya. Selama saya berpuasa, saya mencoba ikhlas menahan dan mengekang keinginan untuk makan dan minum, termasuk tak lagi mengingat-ingat berbagai jenis makanan. Agaknya tak terlalu signifikan ya level kenaikan puasa saya hehe. 

Di titik ini saya juga belajar dan berpikir mengenai ‘menahan hawa nafsu’ sebagaimana sering diajarkan, khususnya pada saat berpuasa. Yang saya ketahui, hawa nafsu di sini adalah hawa nafsu seputar amarah, emosi, iri, dengki, hasad, dan penyakit hati lainnya. Jadi, ketika saya berpuasa, saya mencoba untuk sebisa mungkin tidak marah, tidak emosi, tidak iri, dan seterusnya. Namun, ketika tidak berpuasa, semua komando ‘jangan’ tersebut menjadi ‘longgar’, tak terkontrol, dan (sedikit) terlupakan. Astaghfirullah. *sigh.

Beberapa ceramah, kajian, dan liqa’ saya ikuti dengan harapan untuk menambah pengetahuan dan ilmu saya tentang berpuasa. Mayoritas kajian-kajian tersebut membahas satu tema, misalkan puasa, hanya dari satu sudut pandang saja, ya tentang tema (puasa) itu sendiri. Barangkali dengan cara seperti itu jamaah dapat menjadi semakin tercerahkan serta bertambah tebal pula keimanan mereka akan makna dan hakikat puasa.

Namun, agaknya berbeda dengan diri saya. Ada satu ketidakpuasan dalam diri mengenai cara pembahasan seperti itu. Diri yang bodoh ini seakan menginginkan penjelasan lebih soal itu. Satu isu yang dibahas hanya dari satu sudut pandang saja, menurut kedangkalan pikir saya, tidak akan menambah tingkat pemahaman dan wawasan saya tentang bab itu. Sampai kapan pun X tetaplah X, di manapun dan oleh siapapun yang mengulas atau membahasnya. Dengan cara seperti itu, level pengetahuan saya tentang makna puasa tidak pernah naik kelas.

Suatu hari, satu pemahaman baru menyeruak dan mendobrak hati serta pikiran saya selepas saya membaca satu tulisan Cak Nun berjudul “Puasa: Menuju Makan Sejati”. Cak Nun memulainya dengan membahas salah satu ajaran Rasulullah, “Makanlah selagi lapar, berhentilah sebelum kenyang,” yang mana menurut Cak Nun, ajaran Rasul tersebut masih dipahami dalam taraf permukaan pengetahuan, belum sampai ke kedalaman ilmu. Padahal itu adalah anjuran dasar (dalam skala kecil) yang menentukan seluruh sikap dan kondisi ketakwaan setiap orang dalam segala sendi kehidupan. Dan ketakwaan sendiri adalah target puasa.

Setelah berulang-ulang membaca tulisan tersebut, agaknya pemahaman saya tentang anjuran berpuasa tiba ke satu fase setingkat lebih tinggi dari pemahaman sebelumnya. Termasuk juga mengapa kita diwajibkan berpuasa, apa makna filosofis di balik puasa, pentingnya berpuasa, hingga dampaknya bagi kehidupan kita sebagai makhluk individu maupun sosial. Evolusi berpuasa saya alami kembali. Bukan soal menahan lapar dan minum, serta juga bukan soal “Oh aku lagi puasa jadi gak boleh marah.” Saya belajar lagi bagaimana seharusnya cara berpuasa yang baik untuk meningkatkan ketakwaan, setidaknya menurut sempitnya kacamata cara pandang saya dan sedikitnya ilmu yang saya punyai.

Bagi saya kemudian, ada pemahaman paling mendasar yang harus disadari bahwa berpuasa itu adalah latihan bagi diri untuk me-lakon-i hidup sehari-hari. Contoh paling sederhana, perut yang senantiasa dibakar oleh kompor nafsu berbentuk makanan, harus terus dikendalikan, bukan terus di-los-kan. Puasa adalah sarana untuk berlatih memahami dan mengidentifikasi mana yang benar-benar kebutuhan makan sejati dan mana yang hanya cerminan nafsu semata. Ketepatan manusia dalam mengaplikasikan ilmu tersebut akan berkontribusi/berdampak pada keberlangsungan kehidupan dalam skala yang lebih luas. Dengan kata lain, puasa adalah sebentuk keterampilan sekaligus latihan bagi umat manusia untuk menjalani kehidupan dengan cara yang lebih baik.

Tapi lagi-lagi saya masih tak yakin bahwa saya akan istiqomah untuk menjalankannya. Ada kalanya saya lupa sebagaimana relativitas kebenaran yang erat melekat dalam diri manusia. Namun, di atas itu semua semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan mengampuni semua dosa saya dan dosa kita semua, dan semoga Tuhan bahkan tersenyum serta tertawa menyaksikan kekonyolan evolusi berpuasa hamba-Nya yang memprihatinkan seperti apa yang saya jalani sejauh ini. 

Comments